AIFFA 2025 Merayakan Kekayaan Warisan Budaya Borneo Lewat “Borneo Documentary Awards”.

KUCHING, SARAWAK- ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA) 2025 melanjutkan selebrasi sinema Asia Tenggara dengan program baru penayangan dan penghargaan film-film dokumenter Borneo yang digelar Jumat, 14 November di Borneo Cultural Museum, Kuching, Sarawak.

Sebagai kategori kompetisi terbaru yang dimulai tahun ini, Borneo Documentary Awards merupakan sebuah dedikasi terhadap sinema non-fiksi untuk merayakan karya-karya dokumenter tentang Borneo dan kawasan timur Malaysia.

Menyambut kompetisi baru ini, Festival Director Livan Tajang menyampaikan “Kompetisi ini menyediakan platform bagi filmmaker lokal buat menyuarakan semua kiprah kreatif mereka guna menarik perhatian global terhadap keunikan budaya, tradisi dan potensi geografis Borneo”.

3 kategori penghargaan utama adalah:

Best Borneo Feature Documentary Award
Best East Malaysian Documentary Award
Borneo Documentary Special Merit Award

Berikut susunan nominasi lengkap dan pemenangnya:

Best Borneo Feature Documentary:
Niah National Park – Sarawak Media Group (Malaysia)
Wujud – New Wave Films BN (Brunei)
Indu Gar Indu Takar – Radio Televisyen Malaysia (RTM) Sarawak (Malaysia)
State Of Energy – Sarawak Media Group (Malaysia)

Pemenang: Wujud – Syafi Halim, New Wave Films, Brunei.

Best East Malaysian Short Documentary:
Songs of The HIghlands – Outcast (Malaysia)
The Rhythm of Our Ancestors: Hivan Kayau – Lasan Co. (Malaysia)
Savouring Sibu – Sarawak Media Group (Malaysia)
Rising Above: The Spirit of Bung Podad – UNIMAS (Malaysia)
Threads of Time: Kenyah Stories Unfolded – Sarawak Media Group (Malaysia)

Pemenang: The Rhythm of Our Ancestors: Hivan Kayau – Sarah Lois, Lasan Co. (Malaysia).

Lina Teoh (Kuala Lumpur), Prisca Florence Wong (Sarawak/Kuala Lumpur), Amelia Hapsari (Jakarta), Candida Jau (Sarawak) and Nadira Ilana (Kuala Lumpur/Sabah) menjadi dewan juri segmen kompetisi dokumenter perdana di AIFFA ini. Kapabilitas nama-nama sineas lintas regional yang cukup dikenal ini menjamin hasil seleksi yang merefleksikan autentisitas regional sekaligus standar penuturan sinema dokumenter secara global.

Dalam seremoni penghargaan pemenang kategori Borneo Best Documentary Feature yang dianugerahkan ke film Wujud karya Syafi Halim dari Malaysia, ketua The Borneo Documentary Awards, Rashid Salleh mengatakan “Penghargaan ini ditujukan buat merayakan talenta filmmaker Borneo, mendorong kreasi-kreasi film dokumenter yang punya dampak sekaligus mempromosikan cerita-cerita soal Borneo beserta masyarakat dan budayanya.

Sementara penghargaan East Malaysia Best Documentary Feature dimenangkan oleh film Rhythm of Our Ancestors karya Genevieves Sulan dari Malaysia, dan penghargaan dewan juri Special Merit Award kepada sutradara Sarah Lois untuk film Songs of the Highland.

Untuk memperkuat regenerasi filmmaker baru di Asia Tenggara, AIFFA 2025 juga meluncurkan program AIFFA Biz World menghadirkan pembicara terdepan industri film, serta talkshow soal penjurian festival yang dipandu para juri AIFFA tahun ini, berikut sesi kolaboratif bersama badan perfilman Malaysia “Pitch Your Post with FINAS”, untuk mendorong talenta-talenta dan kelahiran ide-ide baru di sinema Malaysia.

AIFFA 2025 terus berencana untuk melanjutkan kiprahnya sebagai platform dan simbol kreativitas, kolaborasi dan selebrasi kultural antar negara-negara Asia Tenggara.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *