Apa jadinya jika tubuh bukan sekadar wadah, dan ruang bukan sekadar latar? Museum MACAN menghadirkan pameran terbarunya, Pointing to the Synchronous Windows, yang mengajak pengunjung menyelami hubungan kompleks antara tubuh dan ruang—dua entitas yang sering kali kita anggap biasa, namun sejatinya saling membentuk dan dipengaruhi oleh lapisan-lapisan sosial, budaya, psikologis, hingga kosmis.
Berangkat dari koleksi museum, pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya seni rupa dari sejumlah perupa ternama Indonesia dan dunia—banyak di antaranya belum pernah dipamerkan sebelumnya. Pengunjung akan menemukan karya dari Affandi, A.D. Pirous, Christine Ay Tjoe, Entang Wiharso, Yayoi Kusama, Yoshitomo Nara, Keith Haring, hingga Alexander Calder dan Cy Twombly—dalam sebuah narasi visual yang merayakan keragaman medium, bahasa, dan interpretasi artistik.
Dua gagasan utama menjadi titik tolak pameran ini. “Pointing”, terinspirasi dari novel klasik One Hundred Years of Solitude karya Gabriel García Márquez, menggarisbawahi bagaimana tubuh dapat menyampaikan makna melalui isyarat. Sementara “Synchronous Windows” merujuk pada karya Robert Delaunay, yang memandang ruang bukan sebagai sesuatu yang pasif, melainkan sebagai pengalaman yang terus dibentuk oleh cahaya, warna, dan persepsi.
Dua gagasan konseptual menjadi landasan pameran ini. Kata “Pointing” atau “menunjuk” diambil dari novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel García Márquez, yang merefleksikan bagaimana tubuh memiliki kemampuan untuk mengungkapkan makna hanya melalui gestur. Sementara “Synchronous Windows” terinspirasi dari lukisan jendela karya Robert Delaunay, yang memandang ruang sebagai entitas aktif, berlapis, dan saling tumpang tindih—sebuah pengalaman yang tidak pernah tunggal.
Pameran ini akan dibuka dalam dua tahap, mencerminkan dua fokus tematik yang saling terkait erat. Bagian pertama, yang dibuka pada 10 Mei 2024, mengajak pengunjung menyelami tubuh sebagai medan transformasi. Di sini, tubuh tampil bukan sebagai objek pasif, melainkan sebagai perpanjangan dari pikiran, sejarah, dan budaya. Ia bisa merekam tekanan sosial, mencerminkan kelas, menjelajahi alam bawah sadar, hingga berubah menjadi citra publik di era media. Melalui isyarat, alat, dan medium, tubuh bicara dalam bahasa yang terkadang tak terdengar, tapi selalu terasa.
Lalu, mulai 24 Mei 2025, pengunjung diajak melangkah ke bagian kedua pameran, yang melihat ruang bukan hanya sebagai latar atau panggung, tapi sebagai aktor yang aktif memengaruhi pengalaman manusia. Ruang dapat menjadi pelindung atau penjara, menjadi tempat kembali atau tempat asing. Dalam tumpang tindih warna, cahaya, dan susunan visual yang saling menyilang, kita diajak mempertanyakan ulang bagaimana ruang dibentuk, dirasakan, dan dihidupi.
Sebagai pelengkap pengalaman, karya ikonik Yayoi Kusama Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls (2014) akan kembali hadir di Sculpture Garden mulai 24 Mei 2025. Tak hanya itu, sebuah karya penting dari koleksi museum, Baroque Egg with Bow (pink/gold) (1994–2006) karya Jeff Koons, juga akan turut dipamerkan, menambah lapisan makna dalam pengalaman ruang dan kehadiran.
Pameran Pointing to the Synchronous Windows akan berlangsung hingga 5 Oktober 2024. Melalui proyek ini, Museum MACAN terus menegaskan perannya sebagai ruang interaksi ide dan pengalaman, tempat seni bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan dan dipikirkan ulang.